Archive for the Religious Category

Serba- Serbi Hisab-Ru’yat (2)

Posted in Religious on September 3, 2011 by ovieshofia

by Rois Fatoni

 

Pertanyaan #2: Bisakah Hisab membatalkan kesaksian Ru’yat ?

Jawab: Bisa.

 

Salah satu pokok ajaran agama Islam adalah kesempurnaan syari’at yang dibawa Rasulullah SAW.

Termasuk dalam kesempurnaan itu adalah syari’at mengenai penanggalan.

Sebagian di antara kita barangkali terlalu jauh dalam mengangan angankan ke-ummiy-an Rasulullah SAW dan para sahabat dalam hal hisab. Kalau yang dimaksud dengan ummiy itu adalah presisi angka angka perkiraan fenomena astronomi yang ada saat ini, hal itu memang benar. Akan tetapi kalau ke-ummiy-an itu diartikan bhw Rasulullah tidak mengerti ihsab sama sekali, perhatikanlah hal hal berikut ini:

 

1. Rasulullah SAW bersabda bahwa umur bulan itu hanya 29 atau 30 hari; tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih.

Sabda Rasulullah SAW ini bersesuaian dengan fakta umur sinodik bulan yang sekitar 29.5 hari.

Dengan sabda tsb, maka ru’yatul hilal hanya diperlukan untuk memastikan bhw umur bulan berjalan hanya 29 hari.

Jika tidak ada kesaksian hilal pada tanggal 29 bulan berjalan, maka Rasulullah dan sahabat sudah bisa menghisab penampakan hilal pada tanggal 30; dan tidak perlu diru’yat lagi.

 

2. Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam satu tahun yang sama, ada dua bulan yang umurnya tidak mungkin keduanya berumur 29 hari: yaitu dua bulan hari raya: Ramadhan dan Dzulhijjah. Bagi para ahli, sabda ini difahami sebagai jumlah bulan maksimal berturut turut berumur 29 atau 30 hari. Banyaknya jumlah maksimal bulan berturut turut berumur 29 hari adalah 3 bulan, dan banyaknya jumlah maksimal bulan berturut turut berumur 30 hari adalah 4 bulan. Artinya, apabila berturut turut selama 3 bulan berdasarkan kesaksian ru’yah bulan berumur 29 hari, maka bulan keempat harus berumur 30 hari. Pada bulan ke empat ini, kesaksian ru’yah harus ditolak oleh hisab. Demikian pula sebaliknya, jika selama empat bulan berturut turut turut tidak ada kesaksian ru’yah sehingga bulan selalu berumur 30 hari, maka bulan ke lima harus berumur 29 hari. Tidak diperlukan adanya kesaksian ru’yah untuk memastikan bhw bulan berumur 29 hari sebab hisab sudah bisa memastikan tampaknya hilal. Inilah yang dimaksud dalam kaidah fiqih dalam penanggalan: “Hisab berfungsi sebagai penetapan ru’yah atau penolakannya.”

 

Dua hal tsb menunjukkan bhw Rasulullah SAW tidaklah se-ummiy yang kita kira. Syari’at Islam itu sudah lengkap. Dan salah satu kelengkapan syari’at dalam hal penanggalan adalah dua sabda Rasulullah SAW tsb dalam hal hisab disamping sabda beliau yang memerintahkan ru’yat. Artinya apa ? Syariat islam memerintahkan agar hisab (model/prediksi) dipadukan dengan ru’yat (data/observasi). Sebuah perintah yang pada akhirnya mendorong terbentuknya metodologi riset yang membawa kemajuan ilmu dan teknologi, khususnya astronomi hingga mencapai kemajuan seperti yang kita saksikan sekarang ini.

 

Salam,

Rois

Advertisements

Serba serbi Hisab Ru’yat (1)

Posted in Religious on September 3, 2011 by ovieshofia

By. Rois Fatoni

 

Assalaamu’alaikum, wr, wb.

Sekedar sharing pemahaman saya dari diskusi di beberapa milis dan baca baca literatur.

Pertanyaan #1. Perhitungan posisi rembulan dan benda benda langit sudah sangat canggih dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, mengapa tidak menggunakan perhitungan itu dalam penentuan bulan baru ?

Persoalan yang ada di tanah air bukan masalah mau menggunakan hisab atau tidak, tetapi perbedaan definisi hilal yang dijadikan acuan masuknya bulan baru. Ijtima’ yang dikenal sebagai acuan/tanda new astronomical moon jelas tidak ada landasan syar’i-nya. Sebab hilal (lunar crescent) dan ijtima’ (conjunction) itu dua fenomena astronomi yang berbeda. Manusia sejak jaman Babilonia sudah mengenal dan bisa memeperkirakan waktu ijtima’ dan penampakan hilal. Seandainya ijtima’ itu yang diperintahkan Allah dijadikan acuan masuknya bulan baru, tentu Allah akan mewahyukannya kepada naib Muhammad SAW.

Perbedaan definisi hilal kemudian terjadi pada apakah hilal itu adalah “sesuatu yang ada di langit sana” dan tidak terkait dengan pengamatan di bumi, atau “sesuatu yang ada di langit dan terlihat di bumi”. Yang pertama dikenal dengan istilah  hilal hakiki, yang kedua adalah hilal mar’i. Hilal hakiki tidak mempedulikan sama sekali tampak atau tidaknya dari bumi, sedangkan hilal mar’i adalah mempersyaratkan terlihatnya mata oleh bumi dan berbentuk bulan sabit.

Muhammadiyah dalam hal ini memakai hilal hakiki. Artinya, Muhammadiyah hanya menghisab posisi “hilal yang di atas sana” yang sama sekali tidak mempedulikan penampakannya jika dipandang dari bumi. Sehingga, dalam detail perhitungan yang tertuang di dalam buku pedoman hisab Muhammadiyah tidak ada parameter parameter yang mendeskripsikan bentuk hilal, seperti persen iluminasi, panjang busur hilal, dst. Yang ada hanya parameter “tinggi hilal” pada saat matahari terbenam. Itupun, “tinggi hilal” yang dimaksud adalah jarak vertikal titik tertinggi lingkaran rembulan dari horizon.

Adapun penganut hisab imkaanur-ru’yah menghisab hilal mar’i; yaitu hilal yang bisa dilihat dari bumi. Mengapa hilal mar’i ? Karena hilal inilah yang diru’yah oleh Rasulullah dan para sahabat untuk dijadikan acuan sebagai masuknya bulan baru. Perhitungannya lebih kompleks, dan parameter untuk mendeskripsikan hilal pun bukan hanya sekedar “tinggi hilal”, akan tetapi banyak sekali termasuk jarak antara rembulan dan matahari, lebar hilal, dst. Secara teoritis, dari sudut pandangan pemantulan cahaya, hilal dalam pengetian bagian rembulan yang tesinari matahari dan bisa tampak seperti bulan sabit memerlukan jarak perpisahan minimal antara bulan dan matahari. Jarak minimal ini disebut Danjon limit, sebagai tribut bagi andre Danjon yang pertama kali mengemukakan teori tsb. Secara umum, besarnya danjon limit yang diterima di kalangan astronom adalah sekitar 6 hingga 10 derajat. (Banyak orang tidak faham, mengira danjon limit itu adalah tinggi hilal. Padahal bukan. Danjon limit itu adalah jarak sudut perpisahan antara rembulan dan matahari.)

Di samping danjon limit, masih ada lagi besaran besaran lain yang baik secara teoritis maupun secara empiris menjadi syarat bagi terlihatnya hilal dari bumi, antara lain ketinggian hilal. Bagi penganut hilal hakiki, karena hilal tidak definitif sebagai “bulan sabit”, maka syarat “wujud”-nya hilal adalah titik tertinggi rembulan berada diatas ufuk pada saat matahari tengelam. Inilah yang dimaksud bhw wujudul hilal lemah dari sisi astronomi; sebab perhitungan tinggi hilal seperti ini sulit dibuktikan kebenarannya dengan observasi.

Adapun bagi penganut hilal mar’i, parameter tinggi hilal minimal untuk tampaknya hilal bervariasi, tergantung jarak azimuth rembulan dan matahari, jarak elongasi rembulan dan matahari, dst. Oleh karena itu, para astronom mengajukan beberapa kriteria penampakan hilal dengan menggunakan parameter baru yang merupakan gabungan dari tinggi hilal dan lain lain. Beraneka ragamnya kriteria yang tidak memberikan angka eksak itulah yang dijadikan alasan sebagai keengganan oleh Muhammadiyah untuk meninggalkan wujudul hilal.

Baik penganut wujudul hilal maupun imkanur-ru’yah sebenarnya sama sama memakai data data astronomi yang sama dalam perhitungan mereka; dan hasil perhiutngan posisi rembulan dan matahari menghasilkan angka angka yang sama. Akan tetapi karena perbedaan definisi hilal tsb di atas menyebabkan kesimpulan yang berbeda mengenai sudah atau belum masuknya bulan baru.

Yang diperjuangkan Prof. Thomas adalah mengajak para ormas untuk memadukan hisab dan ru’yat untuk menyatukan kalender hijriyah di tanah air. Dulu, NU gigih dengan kriteria ru’yatul hilal yang paling sederhana: asalkan ada yang bersaksi melihat hilal dan berani disumpah maka sudah masuk bulan baru. Kesaksian dibawah sumpah itu harus diterima meskipun secara perhitungan astronomi mustahil hilal bisa terlihat. Sekarang, NU sudah bersedia menggunakan hisab dan teknologi untuk menganulir kesaksian hilal. Demikian pula PERSIS, sudah bersedia menggunakan hilal mar’i dengan hisab imkaanur-ru’yah. Perkembangan ilmu astronomi pun mampu menghasilkan peta visibilitas hilal yang nyaris seragam antara satu model dan model yang lain. Yang masih belum mau beranjak dari pendapatnya adalah Muhammadiyah yang bersikukuh dengan wujudul hilalnya.

Rupa rupanya tahun ini “kesabaran” beliau sudah habis setelah bertahun tahun melobi ahli hisab Muhammadiyah, sehingga akhirnya tahun ini beliau “terpaksa” membuka ke publik apa yang sesungguhnya menjadi kelemahan wujudul hilal baik dari sisi syar’i maupun dari sisi astronomi.

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/

Ekspose beliau ke publik memang tampaknya menjadi “pengadilan” yang memojokkan Muhammadiyah. Namun sejatinya menurut saya, penyampaian kelemahan wujudul hilal tsb adalah bagian dari upaya panjang untuk meluluhkan hati Muhammadiyah agar mau merubah kriteria/definisi hilalnya agar bisa terwujud penyatuan kalender dan hari raya di tanah air. Dengan kata lain, sebenarnya Prof. Thomas ingin mengatakan, “Wahai Muhammadiyah, mengapa kalian bersikukuh dengan wujudul hilal dan memilih melanggengkan potensi perbedaan hari raya; padahal wujudul hilal sendiri bukan satu satunya syari’at yang harus dipegang teguh, bahkan malah kalau mau jujur wujudul hilal itu mengandung kelemahan baik dari sisi syar’i dan dari sisi astronomi” (catatan: istilahnya adalah lemah dari sisi syar’i; dan bukan “tidak syar’i”).

Celakanya, mayoritas orang awam yang tidak faham astronomi mengira bhw Muhammadiyah itu identik dengan hisab yang akurasinya sudah sangat canggih. Padahal, kalau menggunakan kacamata hisab imkaanur-ru’yah, kriteria wujudul hilal itu sudah ditinggalkan para astronom beratus ratus tahun yang lalu. Kriteria wujudul hilal yang dipegang Muhammadiyah baru merupakan “nescessary condition” untuk tampaknya hilal mar’i, yang harus dilengkapi dengan beberapa “sufficient condition” seperti danjon limit, tinggi hilal dll.

Pun demikian halnya kasus idul fitri tahun ini. Para warga dan simpatisan Muhammadiyah bersorak sorai ketika mendapati bhw ada kesaksian ru’yatul hilal, yang mereka kira sebagai sebuah “pembenaran” atas hasil hisab Muhammdiyah. Padahal, yang terjadi sesungguhnya justru sebaliknya: jika kesaksian hilal itu benar, maka kebenaran kesaksian ini meruntuhkan bangunan hisab yang dijadikan dasar oleh Muhammadiyah. Mengapa ? Karena tinggi hilal dalam kesaksian ru’yatul hilal tsb adalah sekitar 4 derajat; padahal hisab Muhammadiyah menghasilkan tinggi hilal baru sekitar 2 derajat.

Demikian sharing dari saya, semoga bermanfaat dan mohon koreksi bila ada kesalahan.

(BERSAMBUNG)

Wassalam,

Rois Fatoni

Liberal dalam Iman, Konservatif dalam Islam

Sekali lagi tentang Poligami (1)

Posted in Religious on January 11, 2011 by ovieshofia

by Rois Fatoni

Berikut ini adalah tulisan saya sesaat setelah berita pernikahan Aa Gym tahun 2007.

Silakan dikomentari atau dikritisi 🙂

Bismillahirrahmaanirrahiim

Saya menulis tulisan ini semata mata ingin mengungkapkan kegundahan perasaan saya berkenaan dengan praktek poligami, khususnya poligami yang dipraktekkan oleh Aa Gym beberapa waktu yang lalu. Mudah mudahan dengan ungkapan perasaan saya ini ada diantara saudara saudara yang bisa memberikan pencerahan sehingga semakin bertambah ilmu yang saya miliki, dan tentu saja keimanan terhadap dienullah al Islam ini.

Saya akan memulai tulisan saya dengan sebuah pertanyaan. Misalkan anda seorang laki – laki mapan, memiliki istri dan beberapa anak yang masih kecil yang membutuhkan keluarga sebagai madrasah pertama dalam kehidupan mereka. Anda tidak mempunyai masalah dalam kehidupan rumah tangga anda, baik itu masalah seksual ataupun masalah lain yang membuat hidup anda dan keluarga anda menjadi tidak harmonis. Kemudian suatu saat anda mempunyai rekan sejawat di tempat anda bekerja, katakanlah seorang sekretaris yang cukup cantik menurut anda, kemudian ada ketertarikan pada hati anda kepadanya sebagaimana tertariknya seorang laki laki kepada seorang wanita. Apa yang akan Anda lakukan ? Apakah anda akan melakukan pendekatan kepadanya untuk meneruskan ketertarikan tadi ke hubungan yang lebih serius dalam sebuah ikatan perkawinan; ataukah anda akan menundukkan pandangan, mencoba mengendalikan hati (me-manage qalbu ) anda dengan berusaha menghindari kontak dengannya ?

Sebagian dari anda barangkali akan menempuh jawaban pertama: anda merancang strategi untuk meneruskan ketertarikan anda ke hubungan yang lebih serius. Tentu saja, melalui pernikahan yang sah. Anda merasa bahwa anda boleh beristri lagi karena agama islam membolehkannya, tentu saja dengan syarat adil. Kecintaan (nafsu) anda kepada sang sekretaris tadi membuat anda begitu yakin bahwa anda akan dengan mudah memenuhi syarat tadi. Langkah pertama dan utama adalah: bagaimana anda memberitahukan hal itu kepada istri dan anak anak anda. Kalau anda mujur, anda akan sangat beruntung jika anda mempunyai istri yang karena besarnya ketaatannya kepada Allah, ia akan memberi jalan kepada anda untuk menggapai “cita – cita” anda. Istri anda “jauh lebih mulia” dari Fathimah putri kesayangan Rasulullah SAW; tatkala ia marah ketika Ali ra. akan menikah lagi. Sebuah kemarahan yang membuat Rasulullah SAW berpidato di muka umum, “Barangsiapa menyakiti hati Fathimah, berarti ia telah menyakiti hatiku”.

Tetapi kebanyakan istri anda pasti akan menolak. Maka langkah logis berikutnya anda akan “mendidik” istri anda agar ia bisa “menghalalkan apa yang Allah halalkan”. Kalau anda beruntung, proses “pendidikan” itu tidak akan memakan waktu yang lama. Tetapi kebanyakan istri anda akan membutuhkan waktu yang lama untuk itu. Kalau tidak kunjung faham, sementara anda semakin ngebet dengan sang sekretaris, maka anda akan menikahi sang sekretaris tanpa sepengatahuan istri anda. Toh, agama islam yang anda fahami tidak mempersyaratkan ijin istri pertama untuk pernikahan anda yang kedua. Anda yakin bhw dengan berjalannya waktu istri pertama anda akan bisa “ikhlas” dan “tabah” menerima kenyataan ini.

Ketika akhirnya semua orang mengetahui bahwa anda telah menikah lagi dengan sekretaris anda yang cantik, dengan bangga anda mengatakan bahwa apa yang telah anda lakukan adalah diperbolehkan di dalam agama islam. Bukan hanya itu, bahkan anda mengaku mengikuti sunnah rasulullah saw. Dengan mantap pula Anda berseru bahwa poligami lebih baik daripada selingkuh (baca: berzina).

Sungguh, bukan seperti itu islam yang selama ini saya kenal dan saya yakini. Dan saya yakin bahwa anda tidak sedang menegakkan sunnah, tetapi sesungguhnya anda sedang menghancurkan agama islam. Kalau boleh berimajinasi, seandainya rasulullah saw masih hidup, beliau akan sangat marah melihat kelakuan anda. (referensi: kemarahan nabi atas rencana Ali mem-poligami Fatimah di atas).

Islam yang saya kenal mengajarkan kepada para pengikutnya agar menundukkan pandangan mereka terhadap lawan jenis. Ketika anda tidak segera menghentikan ketertarikan anda dengan seorang perempuan dan justru memutuskan untuk mengikuti ketertarikan tersebut dengan hubungan lebih lanjut bahkan dengan pernikahan yang sah sekalipun, maka saat itulah anda telah berlaku tidak adil terhadap istri anda. Bagaimana anda akan bisa berlaku adil dalam suatu poligami kalau untuk memulainya saja anda awali dengan ketidakadilan? Islam yang saya fahami mengajarkan kepada saya, kalau saya tertarik kepada seorang perempuan, sedangkan saya mempunyai istri, maka saya diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan mendatangi istri saya untuk bersenang senang dan memperoleh kepuasan darinya. Bukan kemudian justru melakukan pendekatan kepada si perempuan tersebut, untuk kemudian secara diam diam menikahinya. Bukan! Bukan seperti itu islam yang saya kenal. Sungguh!

Islam yang saya kenal menjadikan monogamy sebagai default hubungan laki laki dan perempuan. Allah swt menciptakan satu orang Adam dan satu orang Hawa. Demikian pula anak anak Adam semuanya diciptakan berpasang pasangan: satu laki laki untuk satu perempuan.

Hanya saja, karena ulah sebagian manusia yang suka bermusuh musuhan dan menumpahkan darah sesama manusia, maka jumlah wanita pada masa masa perang lebih besar daripada jumlah laki laki. Demikian pula jumlah anak anak yatim yang kehilangan ayahnya membengkak. Dalam konteks inilah Islam memberikan solusi sosial terbaik: poligami. Dalam kondisi seperti ini para laki laki, karena kelebihan fisik yang dianugerahkan kepada mereka, diperbolehkan (bahkan dianjurkan) beristri lebih dari satu. Hal ini dikarenakan memang jumlah perempuan lebih banyak dari pada laki laki. Terutama para janda yang masih memiliki anak anak kecil. Disamping anak anak tadi membutuhkan kehadiran figur ayah dalam masa pertumbuhan mereka, ibu ibu mereka juga membutuhkan suami untuk memenuhi kebutuhan mereka: baik kebutuhan yang bersifat ekonomis, sosial maupun biologis.

Karena pola hubungan monogamy adalah pola hubungan default yang dikehendaki oleh Allah sebagaimana Allah pertama kali menciptakan satu orang Adam dan satu orang Hawa, maka Allah swt akan senantiasa mengembalikan komposisi 50 : 50 dalam jumlah laki laki dan perempuan, meskipun manusia sendiri yang merusak komposisi itu dengan peperangan. Pasca perang dunia II, perbandingan laki laki dan perempuan di Jerman dan negara – negara lain yang terlibat serius dalam perang mencapai 1 : 3. Namun tidak lebih dari 30 tahun setelah itu Allah swt sudah mengembalikan jumlah itu menjadi 1 : 1 kembali.

Disamping sebagai solusi dalam kondisi kondisi masyarakat yang abnormal, poligami juga merupakan jalan keluar untuk individu dalam kondisi yang abnormal. Kondisi abnormal dalam pengertian bahwa seseorang memerlukan untuk beristri (lagi) baik untuk alasan alasan yang bersifat privat maupun alasan alasan yang bersifat publik. Alasan pribadi misalnya untuk menghasilkan keturunan atau pemenuhan kebutuhan boilogis yang lain. Alasan yang bersifat publik misalnya pernikahan pernikahan politis – strategis untuk mendekatkan hubungan dua kelompok masyarakat.

Kebolehan poligami jelas merupakan kebolehan yang betul betul bersyarat ketat. Di masa masa damai seperti sekarang, dimana rasio laki laki dan perempuan masih seimbang, maka pola hubungan yang berlaku adalah monogamy. Dalam situasi seperti ini, maka perintah menikah adalah bagi mereka mereka yang bujang. Ketika ada seorang perempuan yang sudah cukup umur, tetapi tidak memiliki pasangan, baik karena belum menikah maupun berstatus janda, maka perintah menikahi mereka ditujukan kepada para laki laki yang belum punya pasangan; bukan laki laki yang sudah memiliki pasangan.

Ketika kemudian sebagian diantara kita mengingatkan bahwa poligami dipraktekkan oleh Rasulullah SAW dan karenanya poligami adalah sunnah Rasul, maka saya katakan bahwa dalam hal pernikahan, Rasulullah mengalami dua model: monogamy dan poligami. Rasulullah SAW melakukan monogamy dengan Siti Khadijah hingga akhir hayat Siti Khadijah. Dalam periode monogamy inilah beliau membesarkan anak anak beliau. Kalimat terakhir ini penting untuk dicatat, karena kalau kita mau konsisten mengikuti “sunnah” Rasulullah SAW, maka poligami tidak dilakukan ketika Rasulullah SAW sedang membesarkan putra putri beliau. Persinggungan saya dengan orang orang yang tumbuh dan berkembang di dalam keluarga pelaku poligami menunjukkan kepada saya bahwa mereka yang tumbuh dalam keluarga pelaku poligami cenderung mengalami trauma dan merasa dirinya sebagai korban poligami ayah mereka.

Periode poligami Rasulullah SAW dilakukan di masa perkembangan Islam, baik perkembangan ajaran agama Islam itu sendiri maupun perkembangan wilayah Islam. Semua pernikahan rasulullah SAW adalah dalam rangka dua hal tersebut. Pernikahan beliau dengan zaenab, mantan istri zaid, adalah pernikahan atas perintah Allah untuk kepentingan penjelasan status hukum anak angkat yang semula dikira menjadi anak kandung. Pernikahan beliau dengan Shafiyyah binti Huyyay adalah pernikahan yang dengan pernikahan itu ribuan ratusan Shafiyyah terbebas dari tawanan perang. Tidak satupun dari istri istri Rasulullah di masa pernikahan poligami Rasulullah SAW yang bisa memiliki anak yang tumbuh dewasa dari hasil pernikahan tersebut.

Poin saya adalah, tidak benar bahwa poligami adalah sunnah Rasul. Yang benar adalah: pernikahanlah yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW. Apakah pernikahan itu monogami atau poligami, Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana hendaknya kedua model tersebut dilaksanakan.

Sayangnya, tidak banyak diantara aktifis dakwah di negeri ini yang menyampaikan pandangan seperti tersebut diatas. Diskursus yang ada senantiasa berujung pada polarisasi mendukung dan menentang poligami. Lebih parah lagi isu poligami menjelma menjadi dikotomi Islam dan non Islam; dengan Islam sebagai pendukung poligami di satu sisi dan non Islam menjadi anti poligami di sisi yang satunya lagi. (Persis paradigma Bush : Either with us or against us.) Dari sisi dakwah, jelas ini adalah sesuatu yang kontra produktif. Di kalangan para feminis, Islam dengan wajah seperti ini semakin menguatkan justifikasi mereka bahwa Islam adalah agama pembelenggu perempuan. Di kalangan para muallaf, jelas wajah islam seperti ini akan membuat keraguan di hati mereka yang sebenarnya sudah mulai condong ke agama Islam yang hanif ini.

Kembali ke praktek poligami ala Aa Gym, telah terbukti bahwa praktek poligami beliau sangat tidak produktif dari kaca mata dakwah. Bukan hanya pengajian Aa Gym yang sepi dari pengunjung, tetapi hampir semua majelis pengajian terutama pengajian ibu ibu mengalami penurunan peserta. Kenyataan ini semestinya menjadi peringatan bagi kaum muslimin terutama aktifis dakwah untuk tidak gegabah melaksanakan praktek poligami; bahwa poligami tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Tidak sederhana dalam tinjauan syar’i maupun dalam praktek di masyarakat.

Sekali lagi, ini semua adalah ungkapan perasaan dan pengetahuan saya tentang bagaimana agama Islam yang sampai kepada saya memandang masalah poligami. Alangkah naïf apabila kemudian saya bersikukuh bahwa inilah Islam yang paling benar; toh pemahaman saya tentang berbagai persoalan di dalam agama ini mengalami evolusi dari waktu ke waktu. Tetapi paling tidak, untuk saat ini, demikianlah pemahaman terbaik saya tentang poligami.

Mudah mudahan ungkapan perasaan ini bermanfaat bagi diri saya dan para pembaca semua.

CMIIW, Wallahu a’lam bis-showab.

Gonilan, 27 Agustus 2007.



Salam,

Rois

Aljannah: Pencarian itu hampir berakhir

Posted in Religious on December 22, 2010 by ovieshofia

Dua hari yang lalu saya menyaksikan program serial TV Known Universe, dengan episode “Another Earth”. Program ini mengisahkan bagaimana sejarah pencarian planet di angkasa sana yang bisa dihuni, mirip dengan planet bumi, dan perkembangan mutakhir upaya pencarian “another earth” ini.  Program yang saya tonton adalah tayang ulang, dan sudah bisa diakses di http://www.youtube.com/watch?v=ivyNooq_5kw

Hingga hari ini, paling tidak sudah ditemukan 492 planet yang mirip dengan planet bumi. http://en.wikipedia.org/wiki/Extrasolar_planet. Yang paling baru adalah planet Gliese 518g yang hanya berjarak 20 tahun cahaya dari bumi. http://www.guardian.co.uk/science/2010/sep/29/earth-like-planet-gliese-581g

Penemuan planet mirip bumi ini mengingatkan saya pada kisah penciptaan nabi Adam. Di dalam AlQur’an dikisahkan bahwa setelah Allah menciptakan nabi Adam dan pasangannya, Allah perintahkan keduanya untuk tinggal di aljannah, the garden, surga. Di surga ini nabi Adam diperbolehkan memakan semua buah buahan yang tumbuh disana, kecuali buah dari pohon khuldi. Karena tergelincir oleh tipu daya iblis, akhirnya beliau dan siti Hawa memakan buah terlarang itu. Sebagai hukumannya, Allah turunkan beliau berdua ke bumi.

Dari kisah itu, kita tahu bahwa sebelum tinggal di bumi, nabi Adam tinggal di planet lain selain bumi. Para ahli tafsir berbeda pendapat, apakah aljannah tempat tinggal nabi adam sebelum turun ke bumi ini adalah aljannah yang dijanjikan Allah di akhirat kelak atau ada aljannah yang lain. Mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa aljannah yang dihuni nabi Adam sebelum turun ke bumi berbeda dari aljannah yang dijanjikan Allah. Jika demikian halnya, maka aljannah itu sudah pernah ada dan bisa jadi masih ada di luar sana.

Hari ini, pencarian planet lain yang habitable, yang bisa dihuni manusia telah mencapai kemajuan yang sangat luar biasa. Dan jika another earth itu benar benar ditemukan, maka tamat sudah riwayat teori evolusi. Mengapa? Karena teori evolusi dibangun atas asumsi bahwa tidak ada planet lain di jagat raya ini yang bisa dihuni manusia, dan bahwa manusia tercipta dari planet bumi melalui evolusi dari organisme hidup paling sederhana. Sedangkan Alqur’an menyebutkan bhw manusia didaratkan ke bumi oleh Allah dari planet aljannah.

Akankah planet aljannah yang pernah disinggahi oleh Bapak dan Ibu kita Adam dan Hawa ditemukan kembali oleh anak turun beliau? Mudah mudahan saya masih hidup dan menyaksikan peristiwa terbesar sepanjang sejarah manusia ini. Amiin.

Rois Fatoni

Liberal dalam Iman, Konservatif dalam Islam.