Don’t Judge the Book by It’s Cover

Berbeda dengan minggu lalu yang bertema Gold, hari ini perempuan paruh baya itu mengenakan busana bertema silver. Baju putih polos lengan panjang dipadu dengan rok panjang abu-abu bercorak garis lembut, tampak serasi dengan kerudung (scarf) yang bercorak kotak-kotak hitam dan abu-abu, di sudut scarfnya tertera merk yang sangat terkenal itu,“Burberry”, scarf mahal yang tak terlalu besar itu tak menjulur sempurna menutupi dadanya .

Pandanganku kini beralih pada jari jemarinya, sebuah cincin perak berbatu besar putih bulat melingkar di jari manisnya, sedang jari manis yang lainnya memakai cincin berukir masih dengan tema yang sama, silver. Di pergelangan tangan kanan, menjuntai indah gelang berwarna senada, dan di pergelangan tangan kirinya sekali lagi tema Burberry berulang pada jam tangannya. Tak ketinggalan sebuat tas bercorak kotak-kotak putih (sedikit cream) dan abu-abu bermerk Louis Vuitton pun melengkapi kesempurnaan penampilannya.

Aku tidak sedang membicarakan seorang ibu pejabat, atau seorang Boss perusahaan, atau seorang pengusaha hebat. Aku hanya sedang membicarakan tentang guru ngajiku, Ustadzahku, Sister Airin. Jika kau memiliki kesempatan bertemu dengannya, mendengarkan ceramahnya, pasti akan timbul rasa cinta dalam hatimu. Kata-katanya yang lembut, pandangan mata yang penuh kasih, serta senyum yang selalu menghias bibirnya, tak heran jika kami semua sayang padanya.  Entah sudah berapa orang yang mendapat hidayah  Allah, mengucapkan dua kalimat syahadat dengan perantaraannya. Aku tak heran, dengan gaya tutur kata yang halus, pengetahuan agama yang luas serta sangat toleran kepada orang lain, dia mampu mengubah image seseorang tentang Islam yang radikal, teroris dan kumuh itu menjadi sebuah agama yang penuh cinta damai serta bersih dan indah.

Hari itu dia menceritakan tentang seorang laki-laki berwajah kusam, kusut, seorang laki-laki yang telah banyak  melakukan dosa, seorang laki-laki yang siapapun melihatnya pasti tak akan suka. Tetapi dia ingin bertaubat, maka datanglah dia kepada seorang Ulama dan mengakui semua dosa-dosanya, kemudian dia bertanya kepada Ulama itu, apakah Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya? Dengan sinis sang Ulama menjawab, coba saja kamu taruh pelepah kurma yang telah kering di depan rumahmu, kemudian berbuatlah kebaikan untuk menebus dosa-dosamu, jika engkau temui pelepah kurma itu berubah menjadi hijau, maka itu berarti Allah SWT telah mengampunimu.

Dengan bergegas laki-laki itu pulang dan memenuhi semua saran Ulama tadi. Dengan penuh kesabaran laki-laki itu menjalankan kebaikan-kebaikan yang selama ini sama sekali tidak pernah sekalipun dia kerjakan. Sampai suatu hari dia menemukan pelepah kurma itu berubah menjadi hijau. Seketika dia lari menuju ke rumah Ulama itu dengan wajah yang sangat gembira, kemudian mencium tangannya, serta berterima kasih atas saran dari Ulama tersebut. Mendadak sang Ulama terkejut, merah wajahnya menahan malu, kemudian berkata,” Sungguh akulah yang pantas mencium tanganmu, karena kata-kataku dulu itu hanya sebuah cemoohan buatmu, karena aku tak percaya, dengan dosa sebanyak itu Allah akan mengampunimu. Tapi kau memiliki hati yang hebat dan  tulus, sehingga Allah benar-benar mengampunimu.”

Sister Airin dan laki-laki yang telah bertaubat itu, sungguh bagaikan Barat dan Timur, bagaikan bumi dan langit, bagaikan malam dan siang.  Tapi mereka sungguh telah mendapat keistimewaan dari Allah, yang mungkin kita yang merasa telah “sempurna” menjalankan Islam ini belum mendapatkannya atau belum bisa menjalankannya.  Boleh jadi ada perempuan yang berjubah hitam, berkerudung besar bahkan menutup wajahnya, yang seolah menjadi symbol akan kekuatan imannya, tapi belum satu orang pun yang mendapat hidayah karenanya, bahkan mungkin malah takut akan Islam karenanya. Atau seperti cerita di atas, seorang Ulama yang memandang sinis akan seorang laki-laki pendosa, padahal mungkin Allah belum mengampuni dosa-dosanya, sedang Allah telah mengampuni dosa laki-laki pendosa itu. Kita tak bisa dan tak boleh menghakimi seseorang hanya dari penampilan dan apa yang telah dia kerjakan, karena kita tidak tahu seperti apa yang ada dalam hatinya.

Tiba-tiba jadi teringat komentar seorang teman di salah satu foto yang aku pasang sebagai foto profilku di salah satu websiteku.

Teman: “Kenapa kerudungmu tak menutupi dadamu?

Aku    : “Iya, di sini dingin sekali sehingga semua pakaian harus tertutup jaket.”

Teman: “Kan bisa memakai jaket dan kerudungmu kamu biarkan di luar?”

Aku    : “ Tapi sering ada angin dingin yang akan meniup jaketmu  dan itu membuat kamu merasa kedinginan. Di  sini dinginnya sangat ekstrem bisa kurang dari -30 derajad.”

Teman: “Tapi bukankah ayatnya mengatakan julurkanlah kerudungmu sampai menutupi dadamu?”

Astagfirullaah…Aku tak bisa lagi melanjutkan diskusi ini…tiba2 ada sedih menyelinap dalam hati…:(

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: