Serba serbi Hisab Ru’yat (1)

By. Rois Fatoni

 

Assalaamu’alaikum, wr, wb.

Sekedar sharing pemahaman saya dari diskusi di beberapa milis dan baca baca literatur.

Pertanyaan #1. Perhitungan posisi rembulan dan benda benda langit sudah sangat canggih dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, mengapa tidak menggunakan perhitungan itu dalam penentuan bulan baru ?

Persoalan yang ada di tanah air bukan masalah mau menggunakan hisab atau tidak, tetapi perbedaan definisi hilal yang dijadikan acuan masuknya bulan baru. Ijtima’ yang dikenal sebagai acuan/tanda new astronomical moon jelas tidak ada landasan syar’i-nya. Sebab hilal (lunar crescent) dan ijtima’ (conjunction) itu dua fenomena astronomi yang berbeda. Manusia sejak jaman Babilonia sudah mengenal dan bisa memeperkirakan waktu ijtima’ dan penampakan hilal. Seandainya ijtima’ itu yang diperintahkan Allah dijadikan acuan masuknya bulan baru, tentu Allah akan mewahyukannya kepada naib Muhammad SAW.

Perbedaan definisi hilal kemudian terjadi pada apakah hilal itu adalah “sesuatu yang ada di langit sana” dan tidak terkait dengan pengamatan di bumi, atau “sesuatu yang ada di langit dan terlihat di bumi”. Yang pertama dikenal dengan istilah  hilal hakiki, yang kedua adalah hilal mar’i. Hilal hakiki tidak mempedulikan sama sekali tampak atau tidaknya dari bumi, sedangkan hilal mar’i adalah mempersyaratkan terlihatnya mata oleh bumi dan berbentuk bulan sabit.

Muhammadiyah dalam hal ini memakai hilal hakiki. Artinya, Muhammadiyah hanya menghisab posisi “hilal yang di atas sana” yang sama sekali tidak mempedulikan penampakannya jika dipandang dari bumi. Sehingga, dalam detail perhitungan yang tertuang di dalam buku pedoman hisab Muhammadiyah tidak ada parameter parameter yang mendeskripsikan bentuk hilal, seperti persen iluminasi, panjang busur hilal, dst. Yang ada hanya parameter “tinggi hilal” pada saat matahari terbenam. Itupun, “tinggi hilal” yang dimaksud adalah jarak vertikal titik tertinggi lingkaran rembulan dari horizon.

Adapun penganut hisab imkaanur-ru’yah menghisab hilal mar’i; yaitu hilal yang bisa dilihat dari bumi. Mengapa hilal mar’i ? Karena hilal inilah yang diru’yah oleh Rasulullah dan para sahabat untuk dijadikan acuan sebagai masuknya bulan baru. Perhitungannya lebih kompleks, dan parameter untuk mendeskripsikan hilal pun bukan hanya sekedar “tinggi hilal”, akan tetapi banyak sekali termasuk jarak antara rembulan dan matahari, lebar hilal, dst. Secara teoritis, dari sudut pandangan pemantulan cahaya, hilal dalam pengetian bagian rembulan yang tesinari matahari dan bisa tampak seperti bulan sabit memerlukan jarak perpisahan minimal antara bulan dan matahari. Jarak minimal ini disebut Danjon limit, sebagai tribut bagi andre Danjon yang pertama kali mengemukakan teori tsb. Secara umum, besarnya danjon limit yang diterima di kalangan astronom adalah sekitar 6 hingga 10 derajat. (Banyak orang tidak faham, mengira danjon limit itu adalah tinggi hilal. Padahal bukan. Danjon limit itu adalah jarak sudut perpisahan antara rembulan dan matahari.)

Di samping danjon limit, masih ada lagi besaran besaran lain yang baik secara teoritis maupun secara empiris menjadi syarat bagi terlihatnya hilal dari bumi, antara lain ketinggian hilal. Bagi penganut hilal hakiki, karena hilal tidak definitif sebagai “bulan sabit”, maka syarat “wujud”-nya hilal adalah titik tertinggi rembulan berada diatas ufuk pada saat matahari tengelam. Inilah yang dimaksud bhw wujudul hilal lemah dari sisi astronomi; sebab perhitungan tinggi hilal seperti ini sulit dibuktikan kebenarannya dengan observasi.

Adapun bagi penganut hilal mar’i, parameter tinggi hilal minimal untuk tampaknya hilal bervariasi, tergantung jarak azimuth rembulan dan matahari, jarak elongasi rembulan dan matahari, dst. Oleh karena itu, para astronom mengajukan beberapa kriteria penampakan hilal dengan menggunakan parameter baru yang merupakan gabungan dari tinggi hilal dan lain lain. Beraneka ragamnya kriteria yang tidak memberikan angka eksak itulah yang dijadikan alasan sebagai keengganan oleh Muhammadiyah untuk meninggalkan wujudul hilal.

Baik penganut wujudul hilal maupun imkanur-ru’yah sebenarnya sama sama memakai data data astronomi yang sama dalam perhitungan mereka; dan hasil perhiutngan posisi rembulan dan matahari menghasilkan angka angka yang sama. Akan tetapi karena perbedaan definisi hilal tsb di atas menyebabkan kesimpulan yang berbeda mengenai sudah atau belum masuknya bulan baru.

Yang diperjuangkan Prof. Thomas adalah mengajak para ormas untuk memadukan hisab dan ru’yat untuk menyatukan kalender hijriyah di tanah air. Dulu, NU gigih dengan kriteria ru’yatul hilal yang paling sederhana: asalkan ada yang bersaksi melihat hilal dan berani disumpah maka sudah masuk bulan baru. Kesaksian dibawah sumpah itu harus diterima meskipun secara perhitungan astronomi mustahil hilal bisa terlihat. Sekarang, NU sudah bersedia menggunakan hisab dan teknologi untuk menganulir kesaksian hilal. Demikian pula PERSIS, sudah bersedia menggunakan hilal mar’i dengan hisab imkaanur-ru’yah. Perkembangan ilmu astronomi pun mampu menghasilkan peta visibilitas hilal yang nyaris seragam antara satu model dan model yang lain. Yang masih belum mau beranjak dari pendapatnya adalah Muhammadiyah yang bersikukuh dengan wujudul hilalnya.

Rupa rupanya tahun ini “kesabaran” beliau sudah habis setelah bertahun tahun melobi ahli hisab Muhammadiyah, sehingga akhirnya tahun ini beliau “terpaksa” membuka ke publik apa yang sesungguhnya menjadi kelemahan wujudul hilal baik dari sisi syar’i maupun dari sisi astronomi.

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/

Ekspose beliau ke publik memang tampaknya menjadi “pengadilan” yang memojokkan Muhammadiyah. Namun sejatinya menurut saya, penyampaian kelemahan wujudul hilal tsb adalah bagian dari upaya panjang untuk meluluhkan hati Muhammadiyah agar mau merubah kriteria/definisi hilalnya agar bisa terwujud penyatuan kalender dan hari raya di tanah air. Dengan kata lain, sebenarnya Prof. Thomas ingin mengatakan, “Wahai Muhammadiyah, mengapa kalian bersikukuh dengan wujudul hilal dan memilih melanggengkan potensi perbedaan hari raya; padahal wujudul hilal sendiri bukan satu satunya syari’at yang harus dipegang teguh, bahkan malah kalau mau jujur wujudul hilal itu mengandung kelemahan baik dari sisi syar’i dan dari sisi astronomi” (catatan: istilahnya adalah lemah dari sisi syar’i; dan bukan “tidak syar’i”).

Celakanya, mayoritas orang awam yang tidak faham astronomi mengira bhw Muhammadiyah itu identik dengan hisab yang akurasinya sudah sangat canggih. Padahal, kalau menggunakan kacamata hisab imkaanur-ru’yah, kriteria wujudul hilal itu sudah ditinggalkan para astronom beratus ratus tahun yang lalu. Kriteria wujudul hilal yang dipegang Muhammadiyah baru merupakan “nescessary condition” untuk tampaknya hilal mar’i, yang harus dilengkapi dengan beberapa “sufficient condition” seperti danjon limit, tinggi hilal dll.

Pun demikian halnya kasus idul fitri tahun ini. Para warga dan simpatisan Muhammadiyah bersorak sorai ketika mendapati bhw ada kesaksian ru’yatul hilal, yang mereka kira sebagai sebuah “pembenaran” atas hasil hisab Muhammdiyah. Padahal, yang terjadi sesungguhnya justru sebaliknya: jika kesaksian hilal itu benar, maka kebenaran kesaksian ini meruntuhkan bangunan hisab yang dijadikan dasar oleh Muhammadiyah. Mengapa ? Karena tinggi hilal dalam kesaksian ru’yatul hilal tsb adalah sekitar 4 derajat; padahal hisab Muhammadiyah menghasilkan tinggi hilal baru sekitar 2 derajat.

Demikian sharing dari saya, semoga bermanfaat dan mohon koreksi bila ada kesalahan.

(BERSAMBUNG)

Wassalam,

Rois Fatoni

Liberal dalam Iman, Konservatif dalam Islam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: