Archive for September, 2011

Serba- Serbi Hisab-Ru’yat (2)

Posted in Religious on September 3, 2011 by ovieshofia

by Rois Fatoni

 

Pertanyaan #2: Bisakah Hisab membatalkan kesaksian Ru’yat ?

Jawab: Bisa.

 

Salah satu pokok ajaran agama Islam adalah kesempurnaan syari’at yang dibawa Rasulullah SAW.

Termasuk dalam kesempurnaan itu adalah syari’at mengenai penanggalan.

Sebagian di antara kita barangkali terlalu jauh dalam mengangan angankan ke-ummiy-an Rasulullah SAW dan para sahabat dalam hal hisab. Kalau yang dimaksud dengan ummiy itu adalah presisi angka angka perkiraan fenomena astronomi yang ada saat ini, hal itu memang benar. Akan tetapi kalau ke-ummiy-an itu diartikan bhw Rasulullah tidak mengerti ihsab sama sekali, perhatikanlah hal hal berikut ini:

 

1. Rasulullah SAW bersabda bahwa umur bulan itu hanya 29 atau 30 hari; tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih.

Sabda Rasulullah SAW ini bersesuaian dengan fakta umur sinodik bulan yang sekitar 29.5 hari.

Dengan sabda tsb, maka ru’yatul hilal hanya diperlukan untuk memastikan bhw umur bulan berjalan hanya 29 hari.

Jika tidak ada kesaksian hilal pada tanggal 29 bulan berjalan, maka Rasulullah dan sahabat sudah bisa menghisab penampakan hilal pada tanggal 30; dan tidak perlu diru’yat lagi.

 

2. Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam satu tahun yang sama, ada dua bulan yang umurnya tidak mungkin keduanya berumur 29 hari: yaitu dua bulan hari raya: Ramadhan dan Dzulhijjah. Bagi para ahli, sabda ini difahami sebagai jumlah bulan maksimal berturut turut berumur 29 atau 30 hari. Banyaknya jumlah maksimal bulan berturut turut berumur 29 hari adalah 3 bulan, dan banyaknya jumlah maksimal bulan berturut turut berumur 30 hari adalah 4 bulan. Artinya, apabila berturut turut selama 3 bulan berdasarkan kesaksian ru’yah bulan berumur 29 hari, maka bulan keempat harus berumur 30 hari. Pada bulan ke empat ini, kesaksian ru’yah harus ditolak oleh hisab. Demikian pula sebaliknya, jika selama empat bulan berturut turut turut tidak ada kesaksian ru’yah sehingga bulan selalu berumur 30 hari, maka bulan ke lima harus berumur 29 hari. Tidak diperlukan adanya kesaksian ru’yah untuk memastikan bhw bulan berumur 29 hari sebab hisab sudah bisa memastikan tampaknya hilal. Inilah yang dimaksud dalam kaidah fiqih dalam penanggalan: “Hisab berfungsi sebagai penetapan ru’yah atau penolakannya.”

 

Dua hal tsb menunjukkan bhw Rasulullah SAW tidaklah se-ummiy yang kita kira. Syari’at Islam itu sudah lengkap. Dan salah satu kelengkapan syari’at dalam hal penanggalan adalah dua sabda Rasulullah SAW tsb dalam hal hisab disamping sabda beliau yang memerintahkan ru’yat. Artinya apa ? Syariat islam memerintahkan agar hisab (model/prediksi) dipadukan dengan ru’yat (data/observasi). Sebuah perintah yang pada akhirnya mendorong terbentuknya metodologi riset yang membawa kemajuan ilmu dan teknologi, khususnya astronomi hingga mencapai kemajuan seperti yang kita saksikan sekarang ini.

 

Salam,

Rois

Advertisements

Serba serbi Hisab Ru’yat (1)

Posted in Religious on September 3, 2011 by ovieshofia

By. Rois Fatoni

 

Assalaamu’alaikum, wr, wb.

Sekedar sharing pemahaman saya dari diskusi di beberapa milis dan baca baca literatur.

Pertanyaan #1. Perhitungan posisi rembulan dan benda benda langit sudah sangat canggih dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, mengapa tidak menggunakan perhitungan itu dalam penentuan bulan baru ?

Persoalan yang ada di tanah air bukan masalah mau menggunakan hisab atau tidak, tetapi perbedaan definisi hilal yang dijadikan acuan masuknya bulan baru. Ijtima’ yang dikenal sebagai acuan/tanda new astronomical moon jelas tidak ada landasan syar’i-nya. Sebab hilal (lunar crescent) dan ijtima’ (conjunction) itu dua fenomena astronomi yang berbeda. Manusia sejak jaman Babilonia sudah mengenal dan bisa memeperkirakan waktu ijtima’ dan penampakan hilal. Seandainya ijtima’ itu yang diperintahkan Allah dijadikan acuan masuknya bulan baru, tentu Allah akan mewahyukannya kepada naib Muhammad SAW.

Perbedaan definisi hilal kemudian terjadi pada apakah hilal itu adalah “sesuatu yang ada di langit sana” dan tidak terkait dengan pengamatan di bumi, atau “sesuatu yang ada di langit dan terlihat di bumi”. Yang pertama dikenal dengan istilah  hilal hakiki, yang kedua adalah hilal mar’i. Hilal hakiki tidak mempedulikan sama sekali tampak atau tidaknya dari bumi, sedangkan hilal mar’i adalah mempersyaratkan terlihatnya mata oleh bumi dan berbentuk bulan sabit.

Muhammadiyah dalam hal ini memakai hilal hakiki. Artinya, Muhammadiyah hanya menghisab posisi “hilal yang di atas sana” yang sama sekali tidak mempedulikan penampakannya jika dipandang dari bumi. Sehingga, dalam detail perhitungan yang tertuang di dalam buku pedoman hisab Muhammadiyah tidak ada parameter parameter yang mendeskripsikan bentuk hilal, seperti persen iluminasi, panjang busur hilal, dst. Yang ada hanya parameter “tinggi hilal” pada saat matahari terbenam. Itupun, “tinggi hilal” yang dimaksud adalah jarak vertikal titik tertinggi lingkaran rembulan dari horizon.

Adapun penganut hisab imkaanur-ru’yah menghisab hilal mar’i; yaitu hilal yang bisa dilihat dari bumi. Mengapa hilal mar’i ? Karena hilal inilah yang diru’yah oleh Rasulullah dan para sahabat untuk dijadikan acuan sebagai masuknya bulan baru. Perhitungannya lebih kompleks, dan parameter untuk mendeskripsikan hilal pun bukan hanya sekedar “tinggi hilal”, akan tetapi banyak sekali termasuk jarak antara rembulan dan matahari, lebar hilal, dst. Secara teoritis, dari sudut pandangan pemantulan cahaya, hilal dalam pengetian bagian rembulan yang tesinari matahari dan bisa tampak seperti bulan sabit memerlukan jarak perpisahan minimal antara bulan dan matahari. Jarak minimal ini disebut Danjon limit, sebagai tribut bagi andre Danjon yang pertama kali mengemukakan teori tsb. Secara umum, besarnya danjon limit yang diterima di kalangan astronom adalah sekitar 6 hingga 10 derajat. (Banyak orang tidak faham, mengira danjon limit itu adalah tinggi hilal. Padahal bukan. Danjon limit itu adalah jarak sudut perpisahan antara rembulan dan matahari.)

Di samping danjon limit, masih ada lagi besaran besaran lain yang baik secara teoritis maupun secara empiris menjadi syarat bagi terlihatnya hilal dari bumi, antara lain ketinggian hilal. Bagi penganut hilal hakiki, karena hilal tidak definitif sebagai “bulan sabit”, maka syarat “wujud”-nya hilal adalah titik tertinggi rembulan berada diatas ufuk pada saat matahari tengelam. Inilah yang dimaksud bhw wujudul hilal lemah dari sisi astronomi; sebab perhitungan tinggi hilal seperti ini sulit dibuktikan kebenarannya dengan observasi.

Adapun bagi penganut hilal mar’i, parameter tinggi hilal minimal untuk tampaknya hilal bervariasi, tergantung jarak azimuth rembulan dan matahari, jarak elongasi rembulan dan matahari, dst. Oleh karena itu, para astronom mengajukan beberapa kriteria penampakan hilal dengan menggunakan parameter baru yang merupakan gabungan dari tinggi hilal dan lain lain. Beraneka ragamnya kriteria yang tidak memberikan angka eksak itulah yang dijadikan alasan sebagai keengganan oleh Muhammadiyah untuk meninggalkan wujudul hilal.

Baik penganut wujudul hilal maupun imkanur-ru’yah sebenarnya sama sama memakai data data astronomi yang sama dalam perhitungan mereka; dan hasil perhiutngan posisi rembulan dan matahari menghasilkan angka angka yang sama. Akan tetapi karena perbedaan definisi hilal tsb di atas menyebabkan kesimpulan yang berbeda mengenai sudah atau belum masuknya bulan baru.

Yang diperjuangkan Prof. Thomas adalah mengajak para ormas untuk memadukan hisab dan ru’yat untuk menyatukan kalender hijriyah di tanah air. Dulu, NU gigih dengan kriteria ru’yatul hilal yang paling sederhana: asalkan ada yang bersaksi melihat hilal dan berani disumpah maka sudah masuk bulan baru. Kesaksian dibawah sumpah itu harus diterima meskipun secara perhitungan astronomi mustahil hilal bisa terlihat. Sekarang, NU sudah bersedia menggunakan hisab dan teknologi untuk menganulir kesaksian hilal. Demikian pula PERSIS, sudah bersedia menggunakan hilal mar’i dengan hisab imkaanur-ru’yah. Perkembangan ilmu astronomi pun mampu menghasilkan peta visibilitas hilal yang nyaris seragam antara satu model dan model yang lain. Yang masih belum mau beranjak dari pendapatnya adalah Muhammadiyah yang bersikukuh dengan wujudul hilalnya.

Rupa rupanya tahun ini “kesabaran” beliau sudah habis setelah bertahun tahun melobi ahli hisab Muhammadiyah, sehingga akhirnya tahun ini beliau “terpaksa” membuka ke publik apa yang sesungguhnya menjadi kelemahan wujudul hilal baik dari sisi syar’i maupun dari sisi astronomi.

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/

Ekspose beliau ke publik memang tampaknya menjadi “pengadilan” yang memojokkan Muhammadiyah. Namun sejatinya menurut saya, penyampaian kelemahan wujudul hilal tsb adalah bagian dari upaya panjang untuk meluluhkan hati Muhammadiyah agar mau merubah kriteria/definisi hilalnya agar bisa terwujud penyatuan kalender dan hari raya di tanah air. Dengan kata lain, sebenarnya Prof. Thomas ingin mengatakan, “Wahai Muhammadiyah, mengapa kalian bersikukuh dengan wujudul hilal dan memilih melanggengkan potensi perbedaan hari raya; padahal wujudul hilal sendiri bukan satu satunya syari’at yang harus dipegang teguh, bahkan malah kalau mau jujur wujudul hilal itu mengandung kelemahan baik dari sisi syar’i dan dari sisi astronomi” (catatan: istilahnya adalah lemah dari sisi syar’i; dan bukan “tidak syar’i”).

Celakanya, mayoritas orang awam yang tidak faham astronomi mengira bhw Muhammadiyah itu identik dengan hisab yang akurasinya sudah sangat canggih. Padahal, kalau menggunakan kacamata hisab imkaanur-ru’yah, kriteria wujudul hilal itu sudah ditinggalkan para astronom beratus ratus tahun yang lalu. Kriteria wujudul hilal yang dipegang Muhammadiyah baru merupakan “nescessary condition” untuk tampaknya hilal mar’i, yang harus dilengkapi dengan beberapa “sufficient condition” seperti danjon limit, tinggi hilal dll.

Pun demikian halnya kasus idul fitri tahun ini. Para warga dan simpatisan Muhammadiyah bersorak sorai ketika mendapati bhw ada kesaksian ru’yatul hilal, yang mereka kira sebagai sebuah “pembenaran” atas hasil hisab Muhammdiyah. Padahal, yang terjadi sesungguhnya justru sebaliknya: jika kesaksian hilal itu benar, maka kebenaran kesaksian ini meruntuhkan bangunan hisab yang dijadikan dasar oleh Muhammadiyah. Mengapa ? Karena tinggi hilal dalam kesaksian ru’yatul hilal tsb adalah sekitar 4 derajat; padahal hisab Muhammadiyah menghasilkan tinggi hilal baru sekitar 2 derajat.

Demikian sharing dari saya, semoga bermanfaat dan mohon koreksi bila ada kesalahan.

(BERSAMBUNG)

Wassalam,

Rois Fatoni

Liberal dalam Iman, Konservatif dalam Islam