Don’t Judge the Book by It’s Cover

Posted in Daily Stories on October 10, 2011 by ovieshofia

Berbeda dengan minggu lalu yang bertema Gold, hari ini perempuan paruh baya itu mengenakan busana bertema silver. Baju putih polos lengan panjang dipadu dengan rok panjang abu-abu bercorak garis lembut, tampak serasi dengan kerudung (scarf) yang bercorak kotak-kotak hitam dan abu-abu, di sudut scarfnya tertera merk yang sangat terkenal itu,“Burberry”, scarf mahal yang tak terlalu besar itu tak menjulur sempurna menutupi dadanya .

Pandanganku kini beralih pada jari jemarinya, sebuah cincin perak berbatu besar putih bulat melingkar di jari manisnya, sedang jari manis yang lainnya memakai cincin berukir masih dengan tema yang sama, silver. Di pergelangan tangan kanan, menjuntai indah gelang berwarna senada, dan di pergelangan tangan kirinya sekali lagi tema Burberry berulang pada jam tangannya. Tak ketinggalan sebuat tas bercorak kotak-kotak putih (sedikit cream) dan abu-abu bermerk Louis Vuitton pun melengkapi kesempurnaan penampilannya.

Aku tidak sedang membicarakan seorang ibu pejabat, atau seorang Boss perusahaan, atau seorang pengusaha hebat. Aku hanya sedang membicarakan tentang guru ngajiku, Ustadzahku, Sister Airin. Jika kau memiliki kesempatan bertemu dengannya, mendengarkan ceramahnya, pasti akan timbul rasa cinta dalam hatimu. Kata-katanya yang lembut, pandangan mata yang penuh kasih, serta senyum yang selalu menghias bibirnya, tak heran jika kami semua sayang padanya.  Entah sudah berapa orang yang mendapat hidayah  Allah, mengucapkan dua kalimat syahadat dengan perantaraannya. Aku tak heran, dengan gaya tutur kata yang halus, pengetahuan agama yang luas serta sangat toleran kepada orang lain, dia mampu mengubah image seseorang tentang Islam yang radikal, teroris dan kumuh itu menjadi sebuah agama yang penuh cinta damai serta bersih dan indah.

Hari itu dia menceritakan tentang seorang laki-laki berwajah kusam, kusut, seorang laki-laki yang telah banyak  melakukan dosa, seorang laki-laki yang siapapun melihatnya pasti tak akan suka. Tetapi dia ingin bertaubat, maka datanglah dia kepada seorang Ulama dan mengakui semua dosa-dosanya, kemudian dia bertanya kepada Ulama itu, apakah Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya? Dengan sinis sang Ulama menjawab, coba saja kamu taruh pelepah kurma yang telah kering di depan rumahmu, kemudian berbuatlah kebaikan untuk menebus dosa-dosamu, jika engkau temui pelepah kurma itu berubah menjadi hijau, maka itu berarti Allah SWT telah mengampunimu.

Dengan bergegas laki-laki itu pulang dan memenuhi semua saran Ulama tadi. Dengan penuh kesabaran laki-laki itu menjalankan kebaikan-kebaikan yang selama ini sama sekali tidak pernah sekalipun dia kerjakan. Sampai suatu hari dia menemukan pelepah kurma itu berubah menjadi hijau. Seketika dia lari menuju ke rumah Ulama itu dengan wajah yang sangat gembira, kemudian mencium tangannya, serta berterima kasih atas saran dari Ulama tersebut. Mendadak sang Ulama terkejut, merah wajahnya menahan malu, kemudian berkata,” Sungguh akulah yang pantas mencium tanganmu, karena kata-kataku dulu itu hanya sebuah cemoohan buatmu, karena aku tak percaya, dengan dosa sebanyak itu Allah akan mengampunimu. Tapi kau memiliki hati yang hebat dan  tulus, sehingga Allah benar-benar mengampunimu.”

Sister Airin dan laki-laki yang telah bertaubat itu, sungguh bagaikan Barat dan Timur, bagaikan bumi dan langit, bagaikan malam dan siang.  Tapi mereka sungguh telah mendapat keistimewaan dari Allah, yang mungkin kita yang merasa telah “sempurna” menjalankan Islam ini belum mendapatkannya atau belum bisa menjalankannya.  Boleh jadi ada perempuan yang berjubah hitam, berkerudung besar bahkan menutup wajahnya, yang seolah menjadi symbol akan kekuatan imannya, tapi belum satu orang pun yang mendapat hidayah karenanya, bahkan mungkin malah takut akan Islam karenanya. Atau seperti cerita di atas, seorang Ulama yang memandang sinis akan seorang laki-laki pendosa, padahal mungkin Allah belum mengampuni dosa-dosanya, sedang Allah telah mengampuni dosa laki-laki pendosa itu. Kita tak bisa dan tak boleh menghakimi seseorang hanya dari penampilan dan apa yang telah dia kerjakan, karena kita tidak tahu seperti apa yang ada dalam hatinya.

Tiba-tiba jadi teringat komentar seorang teman di salah satu foto yang aku pasang sebagai foto profilku di salah satu websiteku.

Teman: “Kenapa kerudungmu tak menutupi dadamu?

Aku    : “Iya, di sini dingin sekali sehingga semua pakaian harus tertutup jaket.”

Teman: “Kan bisa memakai jaket dan kerudungmu kamu biarkan di luar?”

Aku    : “ Tapi sering ada angin dingin yang akan meniup jaketmu  dan itu membuat kamu merasa kedinginan. Di  sini dinginnya sangat ekstrem bisa kurang dari -30 derajad.”

Teman: “Tapi bukankah ayatnya mengatakan julurkanlah kerudungmu sampai menutupi dadamu?”

Astagfirullaah…Aku tak bisa lagi melanjutkan diskusi ini…tiba2 ada sedih menyelinap dalam hati…:(

Serba- Serbi Hisab-Ru’yat (2)

Posted in Religious on September 3, 2011 by ovieshofia

by Rois Fatoni

 

Pertanyaan #2: Bisakah Hisab membatalkan kesaksian Ru’yat ?

Jawab: Bisa.

 

Salah satu pokok ajaran agama Islam adalah kesempurnaan syari’at yang dibawa Rasulullah SAW.

Termasuk dalam kesempurnaan itu adalah syari’at mengenai penanggalan.

Sebagian di antara kita barangkali terlalu jauh dalam mengangan angankan ke-ummiy-an Rasulullah SAW dan para sahabat dalam hal hisab. Kalau yang dimaksud dengan ummiy itu adalah presisi angka angka perkiraan fenomena astronomi yang ada saat ini, hal itu memang benar. Akan tetapi kalau ke-ummiy-an itu diartikan bhw Rasulullah tidak mengerti ihsab sama sekali, perhatikanlah hal hal berikut ini:

 

1. Rasulullah SAW bersabda bahwa umur bulan itu hanya 29 atau 30 hari; tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih.

Sabda Rasulullah SAW ini bersesuaian dengan fakta umur sinodik bulan yang sekitar 29.5 hari.

Dengan sabda tsb, maka ru’yatul hilal hanya diperlukan untuk memastikan bhw umur bulan berjalan hanya 29 hari.

Jika tidak ada kesaksian hilal pada tanggal 29 bulan berjalan, maka Rasulullah dan sahabat sudah bisa menghisab penampakan hilal pada tanggal 30; dan tidak perlu diru’yat lagi.

 

2. Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam satu tahun yang sama, ada dua bulan yang umurnya tidak mungkin keduanya berumur 29 hari: yaitu dua bulan hari raya: Ramadhan dan Dzulhijjah. Bagi para ahli, sabda ini difahami sebagai jumlah bulan maksimal berturut turut berumur 29 atau 30 hari. Banyaknya jumlah maksimal bulan berturut turut berumur 29 hari adalah 3 bulan, dan banyaknya jumlah maksimal bulan berturut turut berumur 30 hari adalah 4 bulan. Artinya, apabila berturut turut selama 3 bulan berdasarkan kesaksian ru’yah bulan berumur 29 hari, maka bulan keempat harus berumur 30 hari. Pada bulan ke empat ini, kesaksian ru’yah harus ditolak oleh hisab. Demikian pula sebaliknya, jika selama empat bulan berturut turut turut tidak ada kesaksian ru’yah sehingga bulan selalu berumur 30 hari, maka bulan ke lima harus berumur 29 hari. Tidak diperlukan adanya kesaksian ru’yah untuk memastikan bhw bulan berumur 29 hari sebab hisab sudah bisa memastikan tampaknya hilal. Inilah yang dimaksud dalam kaidah fiqih dalam penanggalan: “Hisab berfungsi sebagai penetapan ru’yah atau penolakannya.”

 

Dua hal tsb menunjukkan bhw Rasulullah SAW tidaklah se-ummiy yang kita kira. Syari’at Islam itu sudah lengkap. Dan salah satu kelengkapan syari’at dalam hal penanggalan adalah dua sabda Rasulullah SAW tsb dalam hal hisab disamping sabda beliau yang memerintahkan ru’yat. Artinya apa ? Syariat islam memerintahkan agar hisab (model/prediksi) dipadukan dengan ru’yat (data/observasi). Sebuah perintah yang pada akhirnya mendorong terbentuknya metodologi riset yang membawa kemajuan ilmu dan teknologi, khususnya astronomi hingga mencapai kemajuan seperti yang kita saksikan sekarang ini.

 

Salam,

Rois

Serba serbi Hisab Ru’yat (1)

Posted in Religious on September 3, 2011 by ovieshofia

By. Rois Fatoni

 

Assalaamu’alaikum, wr, wb.

Sekedar sharing pemahaman saya dari diskusi di beberapa milis dan baca baca literatur.

Pertanyaan #1. Perhitungan posisi rembulan dan benda benda langit sudah sangat canggih dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, mengapa tidak menggunakan perhitungan itu dalam penentuan bulan baru ?

Persoalan yang ada di tanah air bukan masalah mau menggunakan hisab atau tidak, tetapi perbedaan definisi hilal yang dijadikan acuan masuknya bulan baru. Ijtima’ yang dikenal sebagai acuan/tanda new astronomical moon jelas tidak ada landasan syar’i-nya. Sebab hilal (lunar crescent) dan ijtima’ (conjunction) itu dua fenomena astronomi yang berbeda. Manusia sejak jaman Babilonia sudah mengenal dan bisa memeperkirakan waktu ijtima’ dan penampakan hilal. Seandainya ijtima’ itu yang diperintahkan Allah dijadikan acuan masuknya bulan baru, tentu Allah akan mewahyukannya kepada naib Muhammad SAW.

Perbedaan definisi hilal kemudian terjadi pada apakah hilal itu adalah “sesuatu yang ada di langit sana” dan tidak terkait dengan pengamatan di bumi, atau “sesuatu yang ada di langit dan terlihat di bumi”. Yang pertama dikenal dengan istilah  hilal hakiki, yang kedua adalah hilal mar’i. Hilal hakiki tidak mempedulikan sama sekali tampak atau tidaknya dari bumi, sedangkan hilal mar’i adalah mempersyaratkan terlihatnya mata oleh bumi dan berbentuk bulan sabit.

Muhammadiyah dalam hal ini memakai hilal hakiki. Artinya, Muhammadiyah hanya menghisab posisi “hilal yang di atas sana” yang sama sekali tidak mempedulikan penampakannya jika dipandang dari bumi. Sehingga, dalam detail perhitungan yang tertuang di dalam buku pedoman hisab Muhammadiyah tidak ada parameter parameter yang mendeskripsikan bentuk hilal, seperti persen iluminasi, panjang busur hilal, dst. Yang ada hanya parameter “tinggi hilal” pada saat matahari terbenam. Itupun, “tinggi hilal” yang dimaksud adalah jarak vertikal titik tertinggi lingkaran rembulan dari horizon.

Adapun penganut hisab imkaanur-ru’yah menghisab hilal mar’i; yaitu hilal yang bisa dilihat dari bumi. Mengapa hilal mar’i ? Karena hilal inilah yang diru’yah oleh Rasulullah dan para sahabat untuk dijadikan acuan sebagai masuknya bulan baru. Perhitungannya lebih kompleks, dan parameter untuk mendeskripsikan hilal pun bukan hanya sekedar “tinggi hilal”, akan tetapi banyak sekali termasuk jarak antara rembulan dan matahari, lebar hilal, dst. Secara teoritis, dari sudut pandangan pemantulan cahaya, hilal dalam pengetian bagian rembulan yang tesinari matahari dan bisa tampak seperti bulan sabit memerlukan jarak perpisahan minimal antara bulan dan matahari. Jarak minimal ini disebut Danjon limit, sebagai tribut bagi andre Danjon yang pertama kali mengemukakan teori tsb. Secara umum, besarnya danjon limit yang diterima di kalangan astronom adalah sekitar 6 hingga 10 derajat. (Banyak orang tidak faham, mengira danjon limit itu adalah tinggi hilal. Padahal bukan. Danjon limit itu adalah jarak sudut perpisahan antara rembulan dan matahari.)

Di samping danjon limit, masih ada lagi besaran besaran lain yang baik secara teoritis maupun secara empiris menjadi syarat bagi terlihatnya hilal dari bumi, antara lain ketinggian hilal. Bagi penganut hilal hakiki, karena hilal tidak definitif sebagai “bulan sabit”, maka syarat “wujud”-nya hilal adalah titik tertinggi rembulan berada diatas ufuk pada saat matahari tengelam. Inilah yang dimaksud bhw wujudul hilal lemah dari sisi astronomi; sebab perhitungan tinggi hilal seperti ini sulit dibuktikan kebenarannya dengan observasi.

Adapun bagi penganut hilal mar’i, parameter tinggi hilal minimal untuk tampaknya hilal bervariasi, tergantung jarak azimuth rembulan dan matahari, jarak elongasi rembulan dan matahari, dst. Oleh karena itu, para astronom mengajukan beberapa kriteria penampakan hilal dengan menggunakan parameter baru yang merupakan gabungan dari tinggi hilal dan lain lain. Beraneka ragamnya kriteria yang tidak memberikan angka eksak itulah yang dijadikan alasan sebagai keengganan oleh Muhammadiyah untuk meninggalkan wujudul hilal.

Baik penganut wujudul hilal maupun imkanur-ru’yah sebenarnya sama sama memakai data data astronomi yang sama dalam perhitungan mereka; dan hasil perhiutngan posisi rembulan dan matahari menghasilkan angka angka yang sama. Akan tetapi karena perbedaan definisi hilal tsb di atas menyebabkan kesimpulan yang berbeda mengenai sudah atau belum masuknya bulan baru.

Yang diperjuangkan Prof. Thomas adalah mengajak para ormas untuk memadukan hisab dan ru’yat untuk menyatukan kalender hijriyah di tanah air. Dulu, NU gigih dengan kriteria ru’yatul hilal yang paling sederhana: asalkan ada yang bersaksi melihat hilal dan berani disumpah maka sudah masuk bulan baru. Kesaksian dibawah sumpah itu harus diterima meskipun secara perhitungan astronomi mustahil hilal bisa terlihat. Sekarang, NU sudah bersedia menggunakan hisab dan teknologi untuk menganulir kesaksian hilal. Demikian pula PERSIS, sudah bersedia menggunakan hilal mar’i dengan hisab imkaanur-ru’yah. Perkembangan ilmu astronomi pun mampu menghasilkan peta visibilitas hilal yang nyaris seragam antara satu model dan model yang lain. Yang masih belum mau beranjak dari pendapatnya adalah Muhammadiyah yang bersikukuh dengan wujudul hilalnya.

Rupa rupanya tahun ini “kesabaran” beliau sudah habis setelah bertahun tahun melobi ahli hisab Muhammadiyah, sehingga akhirnya tahun ini beliau “terpaksa” membuka ke publik apa yang sesungguhnya menjadi kelemahan wujudul hilal baik dari sisi syar’i maupun dari sisi astronomi.

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/

Ekspose beliau ke publik memang tampaknya menjadi “pengadilan” yang memojokkan Muhammadiyah. Namun sejatinya menurut saya, penyampaian kelemahan wujudul hilal tsb adalah bagian dari upaya panjang untuk meluluhkan hati Muhammadiyah agar mau merubah kriteria/definisi hilalnya agar bisa terwujud penyatuan kalender dan hari raya di tanah air. Dengan kata lain, sebenarnya Prof. Thomas ingin mengatakan, “Wahai Muhammadiyah, mengapa kalian bersikukuh dengan wujudul hilal dan memilih melanggengkan potensi perbedaan hari raya; padahal wujudul hilal sendiri bukan satu satunya syari’at yang harus dipegang teguh, bahkan malah kalau mau jujur wujudul hilal itu mengandung kelemahan baik dari sisi syar’i dan dari sisi astronomi” (catatan: istilahnya adalah lemah dari sisi syar’i; dan bukan “tidak syar’i”).

Celakanya, mayoritas orang awam yang tidak faham astronomi mengira bhw Muhammadiyah itu identik dengan hisab yang akurasinya sudah sangat canggih. Padahal, kalau menggunakan kacamata hisab imkaanur-ru’yah, kriteria wujudul hilal itu sudah ditinggalkan para astronom beratus ratus tahun yang lalu. Kriteria wujudul hilal yang dipegang Muhammadiyah baru merupakan “nescessary condition” untuk tampaknya hilal mar’i, yang harus dilengkapi dengan beberapa “sufficient condition” seperti danjon limit, tinggi hilal dll.

Pun demikian halnya kasus idul fitri tahun ini. Para warga dan simpatisan Muhammadiyah bersorak sorai ketika mendapati bhw ada kesaksian ru’yatul hilal, yang mereka kira sebagai sebuah “pembenaran” atas hasil hisab Muhammdiyah. Padahal, yang terjadi sesungguhnya justru sebaliknya: jika kesaksian hilal itu benar, maka kebenaran kesaksian ini meruntuhkan bangunan hisab yang dijadikan dasar oleh Muhammadiyah. Mengapa ? Karena tinggi hilal dalam kesaksian ru’yatul hilal tsb adalah sekitar 4 derajat; padahal hisab Muhammadiyah menghasilkan tinggi hilal baru sekitar 2 derajat.

Demikian sharing dari saya, semoga bermanfaat dan mohon koreksi bila ada kesalahan.

(BERSAMBUNG)

Wassalam,

Rois Fatoni

Liberal dalam Iman, Konservatif dalam Islam

Perkedel Daging

Posted in Recipes on August 12, 2011 by ovieshofia

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahan:

300 gr kentang kukus, haluskan

100 gr kentang goreng, haluskan (campuran ini membuat perkedel tidak terlalu lembek dan gampang pecah jika digoreng)

150 gr daging cincang

1 butir telur dikocok lepas

1 butir telur kocok utk celupan

1 sdt garlic powder

1  sdm onion powder

1/2 sdt merica bubuk

1/2 sdt pala bubuk

1 batang seledri cincang halus

garam sesuai selera

minyak untuk menggoreng

1/2 bungkus bumbu kare (merk Bamboe atau Indofood, atau bisa juga memakai bumbu kare dari negara lain, tp tentu rasanya jadi sedikit beda, tidak Indonesia lagi)🙂

 

Cara Membuat:

1. Tumis bumbu kare sebentar saja, masukkan daging cincang, tumis sampai daging berubah warna dan air daging menyusut. Sisihkan.

2. Campur dua macam kentang, kemudian masukkan semua bumbu, aduk sehingga menyatu

3. Masukkan daging cincang, telur  dan seledri, aduk lagi

4. Ambil sedikit adonan, bentuk bulatan dan pipihkan, lakukan seterusnya sampai adonan habis

5. Celupkan dalam kocokan telur, kemudian goreng sampai kuning kecokelatan, angkat

Sup Buntut

Posted in Recipes on August 12, 2011 by ovieshofia

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahan:

1/2 kg Buntut Sapi

3 bh wortel potong 2 cm

3 bh kentang  potong besar setebal 2 cm

2 btg daun bawang

1,5 l air

Irisan Bawang Merah goreng

Bumbu:

5 butir bawang merah, haluskan

1 sdt merica bubuk

1/2 sdt pala bubuk

3 butir cengkeh

2 cm kayu manis (atau sesuai selera)

garam secukupnya

Cara Membuat:

1. Memakai pressure cooker, masak buntut sapi kira2 15 menit dari waktu mendesis

2.Tumis bumbu halus bersama merica dan pala bubuk

3. Masukkan tumisan bumbu ke dalam panci yang berisi buntut yang sudah empuk

4. Masukkan cengkeh, kayu manis dan garam

5. Maukkan wortel dan kentang

6. Setelah wortel dan kentang empuk, sesaat sebelum diangkat masukkan daun bawang

7. Hidangkan hangat2 dengan taburan bawang merah goreng dan sambal kecap

Puding Marmer Hungkwe

Posted in Recipes on August 12, 2011 by ovieshofia

 

 

 

 

 

 

Gampaaaaang banget bikinnya….:)

Bahan:
1 bks tepung Hung Kwe putih

1 ltr santan (aku pake santan kara + air)

250 gr gula pasir

1 sdt garam

1 sdm coklat bubuk

2 sdm air panas

 

Cara Membuat:

1. Cairkan coklat bubuk dengan air panas, sisihkan.

2. Campur tepung hung kwe, gula pasir, garam dan santan, aduk rata hingga tepung larut.
Masak diatas api sedang sampai mendidih dan kental, angkat dari api

3. Masih dalam keadaan panas tuangkan larutan coklat bubuk, dan aduk2 membuat pola marmer

4. Tuang ke dalam loyang yg sudah dibasahi dengan air

5. Setelah dingin, potong2, sajikan. Bisa juga dimasukkan freezer sehingga jadi es ager2…(jd inget masa kecil nih :)  )

Sumber:  http://www.ncc-indonesia.com

Fillet Tilapia Lapis Italian Bread Crumbs

Posted in Recipes on August 2, 2011 by ovieshofia

Susah juga mencari judul untuk masakan satu ini. Akhirnya ditulis apa adanya saja😀. Yang ini favourite anak-anak, biasanya anak-anak tidak begitu suka makan ikan karena amisnya. Tapi kalo saya sudah masak yang satu ini, mereka bakalan gak bisa berenti makan, hehehe…mereka bilang ikannya tidak terasa sama sekali.

Ide bread crumbsnya sendiri dapet dari si Buddy (Cake Boss-red), tapi sudah dimodifikasi sehingga rasanya lebih Indonesia 😀

Bahan:

6 potong filet ikan Tilapia (maklum anak saya 4 :D)

300 gr Italian bread crumbs (tepung roti apa aja bisa ding..)

Tepung terigu

2 butir telur kocok lepas

Bumbu :

4 siung bawang putih, dipress dengan garlic press

3 btg seledri dicincang halus (resep aslinya pake parsley)

3 sdm keju parmesan

1/2 sdt mrica hitam bubuk

1 tsp salt (sesuai selera)

Cara membuat:

1. Menggunakan food processor, blend jadi satu bread crumbs, garlic, seledri, keju parmesan, merica bubuk  dan garam.

2. Lumuri ikan dengan garam dan merica bubuk di kedua sisinya

3. Gulingkan ikan ke dalam tepung terigu, telur, kemudian bread crumbnya

4. Goreng di shallow oil (bukan deep frier), sampai golden brown

5. Angkat dan tiriskan

Hidangkan dengan nasi panas dan bake asparagus (Asparagus ditata di loyang, diberi olive oil, dan ditaburi merica hitam bubuk dan garam, bake kira-kira 7 menit)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.